Overview Yohanes 6:35-40
Roti dari Tuhan adalah satu-satunya makanan yang dapat memuaskan ketika kita menghadapi penderitaan (Ignatius). Tuhan menyebut diri-Nya sebagai roti, sebagai rujukan kepada keilahian-Nya karena sebelumnya Dia merujuk pada daging-Nya (Krisostomos). Dengan memakan roti kehidupan ini, kita manusia yang semula diciptakan untuk hidup yang kekal sekarang diberikan kuasa atas kematian (Kirill dari Aleksandria) sebagaimana roti Kristus melalui Roh memelihara tubuh kita untuk tidak dapat binasa ketika kita mengambil sakramen (Teodore dari Heraklea). Namun, mereka yang tidak lapar untuk berkomunikasi, berpura-pura hormat karena terlalu sering mengambil bagian, menjadi jerat dan pelanggaran (Kirill dari Aleksandria). Roti Kristus tetap menjadi makanan orang-orang kudus bahkan sampai hari ini (Ambrosius) memberi kita rasa awal dari pesta kebangkitan yang akan datang ketika kita tidak lagi bergantung pada makanan duniawi dari indra kita (Teodore dari Heraklea).
Fakta bahwa Bapa telah memberikan orang-orang percaya kepada Anak menunjukkan bahwa iman bukanlah suatu kebetulan (Krisostomos). Kristus tidak akan mengusir mereka; sebaliknya, kesombonganlah yang mengusir seseorang, dan kerendahan hati dalam meneladani Allah yang rendah hati yang memulihkan, sebagaimana anggota Kristus dengan rendah hati melakukan kehendak Bapa mereka seperti yang dilakukan oleh Kristus (Agustinus). Meskipun Kristus menyelesaikan kehendak Bapa, kehendak ini sama sekali tidak bertentangan dengan kehendak-Nya (Hilary). Kristus memiliki dua kodrat, Dia memiliki dua kehendak—kehendak ilahi dan kehendak manusia. Konsili Ekumenis Keenam, yang diadakan di Konstantinopel (680–681), menyatakan bahwa kedua kehendak Kristus ini tidak bertentangan satu sama lain, melainkan "Kehendak manusiawi-Nya mengikuti, tidak melawan atau enggan, tetapi tunduk pada keilahian-Nya dan kehendak-Nya, kehendak yang mahakuasa."
Jika Kristus menyerahkan kehendak-Nya kepada Bapa, kita harus melakukannya juga, mengandalkan kehendak Bapa untuk menopang kita (Tertulian). Dia tidak akan kehilangan apa pun yang telah diberikan Bapa kepadanya, termasuk kemanusiaan yang Dia terima pada saat kelahiran-Nya, serta semua domba, termasuk mereka yang tersesat atau sakit, yang telah dipercayakan kepada pemeliharaan-Nya (Jerome). Ini telah ditentukan sebelumnya oleh pemeliharaan Allah yang tidak pernah salah sehingga mereka tidak akan binasa (Agustinus). Ini bukan hanya kehendak Bapa tetapi juga kehendak Anak (Krisostomos).
Kehendak Bapa adalah bahwa setiap orang yang memandang kepada Anak dan percaya akan memiliki hidup yang kekal. Orang-orang Yahudi melihat Yesus tetapi tidak percaya; kita tidak melihat namun percaya, menerima hidup kekal (Agustinus). Orang yang percaya pada kehidupan ini akan disempurnakan dalam kehidupan yang akan datang pada saat kebangkitan (Klemen dari Aleksandria). Pahala kebangkitan menanti mereka yang tetap setia (Krisostomos). Kemudian Bapa akan membawa orang-orang percaya itu kepada Anak dan Anak akan menerima mereka dan menghidupkan mereka kembali pada kekekalan nanti (Kirill dari Aleksandria). Kristus di sini berbicara kepada kita tentang kebangkitan ganda: yang pertama ketika seseorang menjadi percaya dan berpindah dari kematian pada kehidupan, yang kedua ketika ia dibangkitkan pada hari akhir nanti (Agustinus).
Referensi:
Athanasius Academy of Orthodox Theology, Elk Grove, California. The Orthodox Study Bible. Nashville: Thomas Nelson, 2008.
Oden, Thomas C. Ancient Christian Commentary on Scripture. New Testament IVa. Downers Grove, Ill: InterVarsity Press, 1998.
No comments:
Post a Comment